Translate

Bahaya makanan cepat saji ( fast food )


            Fast food,, tidak ada yang tidak kenal istilah tersebut. Penyajiannya yang cepat cocok untuk era globalisasi seperti sekarang. Bentuknya memang kelihatan lezat, akan tetapi, fast food berbahaya.
          Kenapa fast food bisa berbahaya?
          Mari kita cari tahu di laman " fast food " sekarang :


Kenapa fast food bisa berbahaya??


          Fast food mengandung banyak lemak, sodium, dan gula yang telah dinyatakan bisa menurunkan kepadatan tulang. Selain itu, fast food juga tidak mengandung nutrisi yang seimbang karena proses memasaknya yang tidak bisa dikontrol. Beberapa jenis fast food kaya akan minyak dan mentega, yang tentunya juga tanpa ada jaminan kebersihan, dan hampir tidak tersedia pilihan fast food dengan kadar lemak yang dikurangi. Di samping itu, fast food juga cenderung hanya mengandung sedikit sayur dan buah.
          Fast food biasanya sejalan dengan soda atau kola sebagai minumannya. Tahukah Anda, soda dan kola mengandung banyak fosfor, mineral yang akan membentuk asam di dalam tubuh. Penelitian telah menemukan, fosfor bisa mengganggu kemampuan tulang dalam menyerap kalsium. Sebuah studi yang dipublikasikan di Archives of Pediatrics and Adolescent Medicine menunjukkan, remaja perempuan yang minum banyak soda berisiko lebih tinggi mengalami patah tulang dan osteoporosis.
Selain itu, minuman ini juga banyak mengandung gula sederhana yang sama berbahayanya dengan gula dalam menyebabkan penurunan kepadatan tulang. Masa remaja, merupakan puncak pembentukan tulang (sekitar 40-60%), ada baiknya memilih diet dari whole foods dan minuman yang bebas dari risiko penurunan massa tulang.
         Meskipun Anda merasa mengonsumsi fast food dalam jumlah sedang, para peneliti menyatakan bahwa risiko Anda mengalami obesitas tetap lebih besar. Perbedaan antara fast food dan makanan yang dimasak di rumah, menurut peneliti, adalah jumlah kandungan kalori dalam 1 takaran yang sama.
Jumlah kalori yang seharusnya Anda konsumsi dalam sehari bisa dipenuhi hanya dengan sekali makan di fast food outlet dengan mengonsumsi makanan seperti burger, kentang goreng, minuman dan makanan penutup. Menurut para pakar biologi, makan fast food berlebih bisa memicu perubahan psikologis yang bisa menghentikan kerja hormon-hormon dalam mengirim sinyal kenyang. Karna itu, Anda akan terus makan tanpa sadar.
           Dalam kondisi normal, hormon-hormon ini akan mengontrol proses makan dan berat badan. Leptin misalnya, akan secara terus-menerus dikeluarkan oleh sel-sel lemak. Kadar leptin dalam darah mengindikasikan status persediaan lemak tubuh. Sinyal ini selanjutnya akan dibaca oleh hypothalamus, area otak yang mengatur kebiasaan makan, dan menjadikan ini sebagai panduan dalam menjaga kestabilan persediaan.
           Masalah, menurut endocrinologist dari University of Washington di Seattle Michael Schwartz, akan timbul pada mereka yang kelebihan berat badan. Mereka yang obesitas, menurut Schwartz, akan kebal terhadap leptin."Otak akan kehilangan kemampuan dalam merespon hormon-hormon ini jika lemak tubuh meningkat," tutur Schwartz, seperti dikutip situs womenfitness.

          Semakin banyak lemak yang terdapat dalam tubuh, maka hypothalamus akan semakin tidak sensitif. Pada akhirnya, hypothalamus akan menganggap kalau jumlah berlebih dalam tubuh sebagai jumlah yang normal. Dan selanjutnya, setiap penurunan jumlah leptin dibaca sebagai isyarat lapar. Dengan begitu, frekuensi dan jumlah makan Anda akan berlebih.
          Kemajuan ilmu dan teknologi berkembang dengan pesat diberbagai bidang, termasuk dalam bidang pangan, kemajuan teknologi ini membawa dampak positif maupun negatif. Dampak positif teknologi tersebut mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas pangan, juga meningkatkan diversivikasi, hygiene, sanitasi, praktis dan lebih ekonomis. Dampak negatif kemajuan teknologi tersebut ternyata cukup besar bagi kesehatan konsumen dengan adanya penggunaan zat aditif yang berbahaya.
           Pola kehidupan masa kini dicirikan dengan tingginya biaya hidup, emansipasi atau karena alasan lain menyebabkan wanita bekerja diluar rumah. Data statistik tahun 2002 menunjukkan bahwa wanita yang bekerja pada angkatan kerja berjumlah 33,06 juta atau 44,23% dari jumlah total usia wanita antara 15-60 tahun (BPS, 2002). Wanita sebagai ibu rumah tangga dan sebagian lain berprofesi bekerja di luar rumah, karena keterbatasan waktu dan kesibukan, serta sulitnya mencari pramuwisma menyebabkan makanan siap saji menjadi menu utama sehari-hari di rumah.
          Ritme kehidupan yang menuntut segala sesuatu serba cepat, waktu terbatas, anak harus pergi sekolah sementara ibu dan bapak harus segera berangkat kerja, sebagai jalan pintas untuk sarapan disediakanlah makanan siap saji yang memakan waktu penyiapan 3 sampai 5 menit. Siang hari pulang sekolah ibu dan bapak masih bekerja dikantor, anak-anak kembali menikmati makanan siap saji ini. Selain mudah disajikan makanan ini umumnya mempunyai cita rasa yang gurih dan umumnya disukai, terutama oleh anak-anak usia sekolah.
          Masalah lain yang jadi fenomena dimasyarakat adalah tersedianya berbagai jajanan yang dikemas dapat dipastikan “kaya” zat aditif. Tercatat 13 jenis snack mengandung bahan aditif dalam kandungan yang cukup tinggi (Republika, 2003). Pertanyaan yang muncul adalah sejauh manakah bahan-bahan aditif tersebut terkonsumsi dan terakumulasi dalam tubuh, bagaimana dampaknya bagi kesehatan? Dan bagaimana tindakan konsumen terutama ibu-ibu rumah tangga dalam memilih, mengolah makanan yang aman, higienis, cukup gizi dan menyehatkan anggota keluarganya?

Cara mengatasinya



  1. Jauhi makanan berlemak tinggi, seperti fast food,
  2. Makan fast food sebaiknya 3 - 4 bulan sekali.
  3. Banyak mengkonsumsi sayur dan buah.
  4. Masaklah makanan pribadi di rumah.



Tidak ada komentar: